Dulu, waktu teknologi belum secepat sekarang, peran “strategist” sering kali terasa ironis. Banyak orang yang menyandang titel “strategist” justru tenggelam dalam pekerjaan administratif—mengatur spreadsheet, menyusun laporan, mengisi formulir approval, menyiapkan meeting, revisi presentasi, hingga tenggelam dalam hal-hal yang tak strategis sama sekali.
Seseorang pernah bilang, “Dulu waktu aku jadi PD Strategist, 80% waktuku habis buat kerjaan administratif.” Sebuah kalimat sederhana, tapi menggambarkan realitas pahit: banyak strategi hebat mati di tengah birokrasi dan tumpukan tugas klerikal repetitif.
Ketika Strategi Tak Lagi Tentang Strategi
Istilah strategist seharusnya lekat dengan visi, analisis, arah, dan keputusan besar. Tapi di lapangan, peran itu seringkali berubah menjadi operator sistem, bukan pemikir sistem. Karena tanpa sadar, kita lebih sibuk mengelola dokumen strategi ketimbang mengelola arah strategi.
Ironisnya, inilah yang membuat banyak otak brilian kehilangan ruang untuk berpikir mendalam. Kita ingin membuat keputusan berbasis data, tapi tak punya waktu karena habis untuk bersih-bersih datanya dulu.
Kita ingin merancang roadmap besar, tapi tenggelam di revisi deck presentasi yang tak berkesudahan.
Kini, AI mengubah semua itu.
AI Datang: Bukan Untuk Mengambil, Tapi Mengembalikan
AI sering dianggap ancaman — “Nanti kerjaan kita diambil robot!”
Padahal mungkin, AI bukan sedang mengambil peran manusia, tapi mengembalikan peran manusia ke tempatnya yang paling sejati: berpikir strategis. Ketika AI mulai bisa menulis laporan, menyusun notulen, meringkas data, membuat deck, atau menganalisis tren, itu berarti satu hal:
Manusia tidak lagi harus menghabiskan waktu untuk hal yang bisa dilakukan mesin.
AI mengambil hal-hal “remeh” agar manusia bisa fokus pada hal “luhur”. Yang tadinya 80% administratif dan 20% strategis — kini bisa berbalik proporsinya. AI bukan saingan para strategist. Ia adalah sahabat evolusi mereka.
Kenapa Banyak HR (dan Kita Semua) Panik?
Panik terhadap AI sering kali muncul dari ketidaksiapan kita menghadapi perubahan. Padahal secara kodrat, manusia memang diciptakan untuk berpikir strategis. Otak kita bukan mesin penghafal — tapi sistem kompleks yang dirancang untuk menghubungkan pola, menciptakan makna, dan mengambil keputusan dalam ketidakpastian.
Jadi ketika AI mengambil pekerjaan rutin, sebenarnya ia sedang memberi pesan yang sangat filosofis:
“Sekarang giliranmu berpikir lebih dalam.”
Bikin robot yang bisa bantu kerjaan besar bukan berarti manusia kalah.
Justru berarti kita sudah cukup maju untuk mengajari mesin mengurus hal-hal yang dulu menyita waktu kita.
Dan itu berarti: sudah waktunya kita naik level.
Reclaiming Humanity in the Age of AI
Kalau dipikir-pikir, AI bukan hanya alat. Ia adalah cermin evolusi kognitif manusia.
Kalau dulu kita hidup dari insting — digerakkan oleh sistem limbik yang bereaksi cepat terhadap ancaman dan kebutuhan — maka kini, AI menantang kita untuk mengaktifkan bagian otak paling muda kita: prefrontal cortex, pusat berpikir strategis, pengambilan keputusan, dan visi jangka panjang.
Semakin canggih AI, semakin tinggi tuntutan agar manusia berpikir lebih konseptual, reflektif, dan visioner.
Robot berpikir cepat, manusia harus berpikir dalam.
Robot mengeksekusi logika, manusia memaknai arah.
Robot meniru, manusia mencipta.
Dan mungkin, di situlah keseimbangan baru antara manusia dan mesin: AI mengambil alih reaksi instingtif agar manusia bisa kembali pada fungsinya — mencipta, menafsir, dan mengarahkan.
Mungkin inilah waktunya para strategist, manager, dan thinker untuk merebut kembali hakikat pekerjaannya. Bukan untuk terus bereaksi terhadap sistem, tapi untuk membangun arah dari kesadaran yang lebih tinggi.
Kita terlalu lama bekerja dari mode limbik — tergesa, responsif, dan defensif — seolah urgensi adalah bentuk kecerdasan. Padahal fungsi otak paling mulia ada pada kemampuan eksekutif: mengatur prioritas, membaca pola, dan mencipta makna.
AI membuka ruang itu. Ia bukan hanya alat produktivitas, tapi juga alat refleksi. Ia mengingatkan kita bahwa manusia tidak diciptakan untuk meniru mesin, melainkan untuk melampauinya — dengan empati, intuisi, dan visi.
Penutup
AI tidak sedang mengambil tempat kita. Ia sedang membantu kita menemukan kembali tempat kita — sebagai manusia yang berpikir strategis, bukan yang bekerja otomatis.
Dan mungkin, di masa depan, jabatan strategist akan benar-benar berarti seperti seharusnya: bukan orang yang sibuk dengan strategi, tapi orang yang membuat manusia lain bisa berpikir strategis juga.
“AI bukan ancaman. Ia hanya mengingatkan kita untuk jadi manusia yang lebih canggih dari algoritma yang kita ciptakan sendiri.”
Referensi:
The Role of Prefrontal Cortex in Cognitive Control and Executive Function, Nature Reviews Neuroscience (2021). https://www.nature.com/articles/s41386-021-01132-0
Meta-Analytic Evidence for a Superordinate Cognitive Control Network, Cognitive, Affective & Behavioral Neuroscience (2012). https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4011981/
An Integrative Theory of Prefrontal Cortex Function, Annual Review of Neuroscience (Miller & Cohen, 2001). https://www.annualreviews.org/doi/10.1146/annurev.neuro.24.1.167
Understanding Human–AI Augmentation in the Workplace, Information Systems Frontiers (Springer, 2025). https://link.springer.com/article/10.1007/s10796-025-10591-5
Artificial Intelligence and Strategic Decision-Making: Evidence from Organizations Adopting Generative AI Tools, INFORMS Journal on Strategic Management (2024). https://pubsonline.informs.org/doi/10.1287/stsc.2024.0190
