Pulih dan Bangkit: Perjalanan Psikologis Pasca-Layoff

Dalam kehidupan, kita sering dihadapkan pada tantangan yang menguji ketahanan mental dan emosional kita. Salah satu momen yang mencerminkan ini adalah bulan Ramadan, di mana umat Muslim berpuasa sebagai bentuk latihan menahan diri. Ketika waktu berbuka tiba, ada rasa kemenangan setelah mampu mengatasi tantangan berpuasa sepanjang hari. Namun, kemenangan sejati bukan hanya tentang menyelesaikan suatu tantangan, tetapi juga tentang bagaimana kita bangkit dan bertahan dari berbagai ujian kehidupan. Inilah inti dari resiliensi.

Mengadopsi dari American Psychology Association (APA), resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dan berhasil bangkit kembali setelah menghadapi kesulitan atau tantangan. Sama seperti puasa yang menguji kita dalam menahan diri selama satu periode waktu, menghadapi layoff juga bisa menjadi ujian yang menguras fisik, emosional, dan mental. Namun, dengan ketahanan yang dibangun melalui kegigihan dan sistem dukungan yang kuat, kita bisa melewati masa sulit ini dan menemukan kembali arah hidup yang lebih baik.

 

Resiliensi: Kunci untuk Bangkit Kembali

Krisis global mempengaruhi situasi dan kondisi ekonomi makro yang mengakibatkan pergeseran kelas sosial-ekonomi. Dalam dunia kerja, kehilangan pekerjaan bisa terasa seperti pukulan besar yang mengguncang stabilitas hidup. Menurut studi, kehilangan pekerjaan dapat menimbulkan reaksi emosional yang serupa dengan proses berduka, termasuk tahapan seperti penolakan (denial), kemarahan (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi (depression), hingga akhirnya penerimaan (acceptance). Namun, proses ini tidak harus dilalui sendirian.

Salah satu faktor kunci dalam membangun resiliensi adalah memiliki support system yang kuat. Jika dianalogikan ke dalam sebuah tim olahraga, para pemain selalu menghadapi kemungkinan menang, kalah, atau seri. Ketika kalah, mereka tidak menyerah, tetapi justru bersiap untuk pertandingan berikutnya. Dalam hal ini, peran pelatih, rekan pemain satu tim, dan para suporter menjadi sangat penting dalam memberikan semangat dan dukungan moral. Begitu pula dalam menghadapi layoff, kita membutuhkan support system yang dapat berasal dari keluarga, teman, komunitas, dan bahkan profesional yang dapat membantu memvalidasi perasaan kita dan memberikan penguatan selama prosesnya untuk bangkit kembali.

 

Peran Support System dalam Pemulihan Pasca-layoff

Menghadapi layoff bukan hanya tentang mencari pekerjaan baru, tetapi juga tentang memulihkan kondisi mental dan emosional. Dukungan dari lingkungan sekitar dapat memberikan ketenangan dan mempercepat proses pemulihan. Berikut beberapa bentuk support system yang bisa membantu:

  • Keluarga dan Teman: Mereka bisa menjadi tempat untuk mencurahkan perasaan, mendapatkan validasi emosi, termasuk menjadi orang-orang yang menerima kita sebagai manusia terlepas dan titel dan jumlah penghasilan kita.
  • Komunitas: Bergabung dengan komunitas yang memiliki pengalaman serupa dapat memberikan motivasi, inspirasi, dan saling menguatkan.
  • Konseling Profesional: Mendapatkan bantuan dari konselor atau psikolog dapat membantu mengelola emosi dengan lebih efektif serta merancang langkah-langkah strategis untuk bangkit kembali.

 

Webinar “Pulih dan Bangkit: Perjalanan Mental dan Emosional Pasca-layoff

Untuk membantu individu yang terdampak layoff memahami dan menghadapi tantangan ini, TalentCraftLab mengadakan webinar “Pulih dan Bangkit: Perjalanan Mental dan Emosional Pasca-layoff” yang bertujuan untuk:

  • Memberikan wawasan tentang dampak psikologis layoff dan tahapan emosional yang dialami.
  • Menyediakan langkah-langkah praktis untuk mengelola emosi dan membangun support system.
  • Menginspirasi peserta untuk membangun kembali rasa percaya diri dan memulai perjalanan karier baru dengan lebih optimis.

 

Arti Hari Kemenangan: Resiliensi dalam Kehidupan

Kemenangan sejati bukan hanya tentang menghindari kegagalan, tetapi tentang bagaimana kita belajar, bertahan, dan bangkit setelah terjatuh. Layoff bisa menjadi titik balik untuk menemukan peluang baru dan memperkuat diri. Dengan support system yang tepat, kita dapat membangun resiliensi dan menghadapi apa pun tantangan yang datang.

 

Apakah kamu siap untuk bangkit dan menemukan makna kemenangan dalam perjalananmu? 


Reference

  1. APA Dictionary of Psychology (https://dictionary.apa.org/resilience?)
  2. Kirsten Weir. APA COVID-19 Special Report: June 2020, Vol. 51, No. 4. Grieving life and loss. (https://www.apa.org/monitor/2020/06/covid-grieving-life)
  3. AllyNetwork. Understanding Grief: Navigating the Path Through Loss. (https://allynetwork.org/resources/understanding-grief-navigating-path-through-loss)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *